Penulis: Restu Nabila
Salahsatu permasalahan terbesar dalam pembelajaran bahasa arab bagi masyarakat Indonesia adalah asumsi bahwa bahasa arab adalah bahasa yang sulit untuk dipelajari, atau dengan kata lain lebih sulit jika dibanding dengan belajar bahasa Inggris. Selain masalah diatas, huruf Arab bukanlah huruf yang digunakan dalam penulisan bahasa di asia pasific, menjadikan huruf Arab adalah huruf yang asing dibandingkan dengan huruf latin yang digunakan dalam penulisan bahasa di asia pasific. Selain kedua masalah diatas, pengajaran bahasa Arab untuk masih mayoritas diajarkan untuk tujuan memahami Agama, yaitu memahami literatur agama yang tertulis dalam bahasa Arab, sehingga pengajaran bahasa arab sangat berkaitan dengan semangat mempelajari agama.
Beberapa permasalahan diatas, sedikit banyak menjadikan para pelajar bahasa Arab mengalami beberapa masalah secara psikologi, misalnya ketidak percayaan diri untuk bisa menguasai bahasa Arab dalam waktu relatif cepat. Sehingga hal ini menjadi kendala tersendiri yang harus menjadi kesadaran para pengajar bahasa Arab dalam menyajikan materi-materi pembelajaran.
Keterampilam membaca merupakan satu di antara empat ketrampilan yang diajarkan dalam berbahasa. dan dalam belajar bahasa yang bertujuan untuk memahami agama Islam melalui literatur aslinya, maka keterampilan membaca merupakan keterampilan yang paling dominan di antara keterampilan-keterampilan yang lainnya.
Menurut thantaway dalam kamus istilah bimbingan dan konseling (2005:87) percaya diri adalah kondisi mental atau psikologis diri seseorang yang memberi keyakinan kuat pada dirinya untuk berbuat atau melakukan tindakan.
Sedangkan menurut Lauster ( 2004 : 4) kepercayaan diri merupakan suatu sikap atau keyakinan atas kemampuan diri sendiri sehingga dalam tindakannya tidak terlalu cemas, merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang sesuai keinginan dan tanggungjawab atas perbuatannya. Sopan dalam berinteraksi dengan oranglain, memiliki dorongan prestasi serta dapat mengenal kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Lauster menggambarkan bahwa orang yang mempunyai kepercayaan diri, memiliki ciri-ciri tidak mementingkan diri sendiri (toleransi), tidak membutuhkan dorongan orang lain, optimis dan gembira.